Thursday, 11 May 2017

Bab 4. Bunga - Bunga ( Puppha Vagga )



1.     Siapakah yang akan mengenal dunia ini, alam kematian dan alam dewa ? Siapakah yang akan memahami Dhamma yang telah dibabarkan dengan sempurna oleh Sang Buddha, seperti seorang perangkai bunga yang pandai memilih bunga-bunga yang indah untuk dirangkai?

2.     Siswa yang terlatih baik, akan mengenal dunia ini, alam kematian dan juga alam dewa. Siswa yang terlatih baik memahami Dhamma yang telah dibabarkan dengan sempurna oleh Sang Buddha, seperti seorang perangkai bunga yang pandai memilih bunga-bunga yang indah untuk dirangkai.

3.     Setelah mengetahui bahwa tubuh ini seperti gelembung buih, dan menyadari coraknya yang maya, lalu menghancurkan tangkai bunga kematian dari Mara, membuat dirinya tak terlihat oleh Raja Kematian.

4.     Bagi seseorang yang hanya memikirkan kenikmatan indria dan mengumpulkan bunga-bunga di taman, maka kematian akan menjerat dan membawanya pergi seperti banjir bandang menghanyutkan desa yang tertidur.

5.     Bagi seseorang yang hanya memikirkan kenikmatan indria dan mengumpulkan bunga-bunga di taman, tidak pernah puas dengan nafsu keinginannya, maka ia akan selalu dicengkram oleh Raja Kematian.




Bab 3. Pikiran ( Citta Vagga )

33.   Pikiran itu tidak tenang , tidak stabil , bergelombang  sukar dijaga , sukar dikendalikan , orang bijaksana meluruskan pikirannya seperti pembuat panah meluruskan anak panahnya.

34.    Seperti ikan yang terlempar keluar dari air, menggelepar diatas tanah yang kering,  demikianlah batin ini, bergolak ketika membebaskan diri dari pengaruh Mara.

35.   Pikiran itu sangatlah sulit dikendalikan, bergerak sangat cepat, menuju kemana ia mau pergi, melatih pikiran adalah baik, pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan.

36.  Pikiran itu sangat sulit diawasi, dan sangat halus, bergerak kemana ia mau pergi, orang bijaksana seharusnya mengendalikan pikirannya, pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan.

37.  Pikiran itu dapat mengembara ke tempat yang sangat jauh, tersesat tidak menentu, tidak berbentuk, terkurung dalam kegelapan, mereka yang dapat mengendalikan pikirannya, akan terbebas dari jeratan Mara.

38.   Seseorang yang batinnya tidak stabil, yang tidak mengenal Kebenaran Sejati, yang tidak teguh keyakinannya, tidk akan berkembang kebijaksanaannya.

39.  Seseorang yang pikirannya tidak ternoda oleh nafsu, terbebas dari kebencian, dapat mengatasi baik dan buruk, maka tidak ada lagi perasaan takut.

40. Setelah menyadari bahwa tubuh ini rapuh seperti tempayan, lalu memperteguh pikiran seperti benteng pertahanan yang kokoh , dengan bersenjatakan kebijaksanaan melawan Mara, memelihara apa yang telah dicapai, hidup terbebas dari kemelekatan.

41. Aduh, tidak lama lagi tubuh ini akan terbujur kaku diatas tanah, terbuang, tidak bernyawa, tidak berguna, seperti batang kayu yang telah hangus terbakar.

42.  Betapa burukpun akibat dari serangan musuh, atau betapa beratnya penderitaan akibat perbuatan dari orang yang membenci, namun pikiran yang tidak terkendali akan membuat seseorang lebih sengsara lagi.

43. Berapa besarpun pertolongan ibu , ayah atau sanak keluarga, namun pikiran yang diarahkan secara benar adalah lebih baik dan lebih berguna dari semua pertolongan diatas tersebut.

Friday, 5 May 2017

Bab 2 . Kewaspadaan ( Appamada Vagga )




21. Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan, kelengahan adalah jalan menuju kematian, mereka yang sadar tidak akan mati, mereka yang tidak sadar seperti orang mati.

22.  Orang yang bijaksana, setelah memahami hal tersebut, mengembangkan kesadarannya, ia berbahagia menjalani kehidupan suci.

     23.  Para bijaksana yang bermeditasi dan tidak pernah berhenti berjuang, tetap tabah sehingga akhirnya terbebas dari segala kemelekatan dan mencapai Nibbana.

     24. Tabah dan penuh perhatian, suci dalam setiap perbuatan, hati-hati dalam setiap tingkah laku , mengendalikan diri dengan baik , dan hidup secara benar, maka orang yang selalu sadar ini akan maju dengan cepat.

     25.  Dengan kewaspadaan dan ketabahan , dengan kesabaran dan pengendalian diri, orang bijaksana membuat dirinya seperti pulau yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.

     26.  Orang dungu yang tidak menyadari hal-hal yang sesungguhnya berharga, terhanyut mengikuti nafsunya dalam kelengahan , sebaliknya orang-orang bijaksana memelihara kewaspadaannya, seperti menjaga harta yang sangat berharga.

     27.  Jangan terhanyut dalam kelengahan, tidak melekat pada kenikmatan indria, orang yang sadar dan selalu waspada , akan mmperoleh kebahagiaan yang tidak terbatas.

     28.  Ketika orang bijaksana mengatasi kelengahan dengan kewaspadaan, ia seperti telah mencapai menara kebijaksanaan, maka ia melihat orang-orang bersedih tanpa merasa iba, seperti pendaki gunung yang melihat orang-orang yang berada di tempat yang lebih rendah.

     29. Orang yang waspada diantara orang-orang yang lengah, orang yang sadar diantara orang-orang yang tidur nyenyak, orang yang bijaksana akan maju terus, seperti seekor kuda yang berlari cepat meninggalkan kuda-kuda yang lemah dibelakangnya.

     30.  Kesadaran selalu dipuji ,kelengahan selalu dicelah, dengan kewaspadaan, Magha telah menjadi pemimpin dari para dewa.

     31.  Bhikku yang berbahagia dalam kewaspadaan , dan ngeri terhadap kelengahan, maka ia akan maju dalam usahanya mencapai Nibbana, seperti api membakar belenggu yang besar dan kecil.

     32.   Bhikku yang berbahagia dalam kewaspadaan , dan ngeri terhadap kelengahan , maka tidak akan mengalami kegagalan, ia sudah dekat dengan Nibbana.


Wednesday, 3 May 2017

Bab 1. Syair Berpasangan ( Yamaka Vagga )



1.  Pikiran mendahului semua kondisi batin, pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. Apabila dengan pikiran yang jahat seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka penderitaan akan mengikuti si pelaku karenanya , seperti roda kereta yang mengikuti jejak kaki lembu jantan yang menariknya.

2.     Pikiran mendahului semua kondisi batin, pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. Apabila dengan pikiran yang bersih / suci seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka kebahagiaan akan mengikuti si pelaku karenanya, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan tubuh seseorang.

3.     Mereka yang memendam kebencian didalam dirinya ( dan berpikir ) : " Ia telah menyiksa diriku, ia telah memukuli tubuhku, ia telah mengalahkan aku dan telah merampas barang-barangku ", maka kebencian tidak akan lenyap dari batinnya.

4.     Mereka yang tidak memendam kebencian didalam dirinya ( dan tidak berpikir ) : " Ia telah menyiksa diriku, ia telah memukuli tubuhku , ia telah mengalahkan aku dan telah merampas barang-barangku", maka kebencian akan lenyap dari batinnya.

5.     Dalam dunia ini, kebencian tidak pernah dapat dilenyapkan dengan kebencian , kebencian hanya dapat dilenyapkan dengan cinta kasih ( kasih sayang ) dan saling memaafkan. Ini adalah kebenaran abadi.

6.     Masih banyak orang yang tidak mengerti , mengapa kita harus binasa di dunia ini akibat perselisihan. Ia yang memahami kebenaran ini , akan dapat melenyapkan perselisihan.

7.     Seseorang yang hidupnya ditujukan untuk menikmati hal-hal yang menyenangkan , indrianya tidak terkendali , makan tidak terbatas, malas , tidak bersemangat : maka nafsu jahat akan menguasai dirinya seperti angin menumbangkan pohon yang rapuh.

8.     Seseorang yang hidup di tempat yang sederhana , mengendalikan indrianya, makan secukupnya , penuh dengan keyakinan , bersemangat : maka nafsu jahat tidak dapat menguasai dirinya, seperti angin tidak dapat merobohkan gunung karang.

9.     Seseorang yang belum terbebas dari kekotoran batin, hidupnya tidak terkendali dn tidak memahami Kebenaran, maka ia tidak pantas mengenakan jubah bhikku.

10.  Tetapi seseorang yang telah terbebas dari kekotoran btin, selalu  berbuat baik,penuh pengendalian diri dan memahami Kebenaran,    maka ia layak mengenakan jubbah bhikku.

11.   Apabila mereka memandang sesuatu yang tidak berharga sebagai sesuatu yang berharga, dan melihat sesuatu yang berharga sebagai sesuatu yang tidak berharga, maka hal tersebut akan menimbulkan pikiran yang keliru dan mereka tidak akan memperoleh sesuatu yang berharga.

12.  Apabila mereka memandang sesuatu yang berharga sebagai sesuatu yang berharga, dan melihat sesuatu yang tidak berharga sebagai sesuatu yang tidak berharga, maka hal tersebut akan menimbulkan pikiran yang benar dan mereka akan memperoleh sesuatu yang sunguh-sungguh berharga.

13.  Seperti air hujan yang menetes menembus atap jerami yang jarang , demikianlah nafsu keinginan menembus batin yang rapuh  ( tidak terlatih  ).

14. Seperti air hujan yang tidak dapat menembus atap jerami yang   tebal , demikianlah nafsu keinginan tidak dapat menembus batin yang kokoh  ( terlatih baik ).

15.  Dalam kehidupan ini dia menderita, dalam kehidupan yang akan datang ia juga akan menderita, dalam kedua alam kehidupan si pembuat kejahatan menderita, ia menderita dan bersedih menyaksikan buah dari perbuatannya yang buruk.

16.  Dalam kehidupan ini ia berbahagia , dalam kehidupan yang akan datang ia juga akan berbahagia, dalam kedua alam kehidupan si pembuat jasa kebaikan berbahagia, ia bergembira dan berbahagia menyaksikan buah dari perbuatannya yang baik.

17.  Si pembuat kejahatan menyesal dalam kehidupan ini, ia juga menyesal dalam kehidupan yang akan datang, ia menyesal di kedua alam kehidupan. Ia sangat menyesal ketika merenungkan perbuatan jahatnya, dan ia akan lebih menderita lagi setelah terlahir di alam sengsara.

18. Si pembuat kebajikan berbahagia dalam kehidupan ini, ia juga berbahagia dalam kehidupan yang akan datang , ia berbahagia di kedua alam kehidupan. Ia sangat berbahagia ketika merenungkan perbuatan bajiknya, dan ia akan lebih bahagia lagi setelah terlahir di alam surga / bahagia.

19.  Meskipun ia telah membaca banyak kitab suci, namun tidak melaksanakan Ajaran Sang Buddha, seperti gembala yang menghitung sapi orang lain , maka ia tidak akan mendapat manfaat hidup dalam pesamuan para bhikku / pertapa.

20. Meskipun hanya membaca sedikit kitab suci , namun ia melaksanakan Ajaran Dhamma dengan sungguh – sungguh , melenyapkan pandangan keliru, nafsu raga dan kebencian, tidak melekat pada apapun dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan yang akan datang, maka ia akan mendapat manfaat dari kehidupan dalam pesamuan para bhikku / pertapa.



Bab 4. Bunga - Bunga ( Puppha Vagga )

1.      Siapakah yang akan mengenal dunia ini, alam kematian dan alam dewa ? Siapakah yang akan memahami Dhamma yang telah dibabarkan d...